Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

06 Februari 2009

HT dan Wajah Persaudaraan Universal

Posted by cah_hamfara 14.38, under | No comments

Semua orang tahu bahwa umat Islam di manapun berada sesungguhnya adalah bersaudara. Namun, bagaimana persaudaraan itu bisa diwujudkan pada saat umat Islam kini hidup terpisah di lebih dari 50 negara yang berbeda-beda? Ini pertanyaan sangat relevan, karena persaudaraan Islam tentu saja bukanlah hanya sekadar slogan, melainkan harus diwujudkan secara nyata.

Memang, dalam ibadah haji ada lebih dari 3 juta umat Islam berkumpul di Tanah Suci untuk melaksanakan manasik haji secara bersama: wukuf di padang Arafah, melempar jumrah, tawaf dan sa’i. Saat itu, persaudaraan Islam memang terasa tampak nyata, namun sayang, hanya berhenti sampai di situ. Selepas menunaikan ibadah haji dan kembali ke tanah airnya masing-masing, selesai pula rasa persaudaraan yang sempat membuncah selama berada di Tanah Suci.

Karena itu, jika ada kelompok, organisasi, jamaah atau partai politik yang bisa mencerminkan persaudaraan Islam atau ukhuwah islamiyah secara nyata dan terus-menerus, salah satunya tentu adalah Hizbut Tahrir (HT). Ini karena HT memang adalah partai politik Islam internasional, yang keanggotaannya tentu saja benar-benar berasal dari berbagai negara di dunia. Didirikan pada awal tahun 50an oleh Syekh Taqiyyudin an Nabhani (rahimahullah) di al Quds, Palestina, kini—lebih dari 50 tahun kemudian—HT telah berkembang tidak kurang di 40 negara, baik di kawasan Timur Tengah maupun di negara-negara luar Timur Tengah seperti Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Timur, Australia, kawasan Asia Tengah dan negara-negara bekas Uni Sovyiet, kawasan Afrika bagian Utara, Eropa Barat dan Eropa Timur serta Amerika Serikat dan Kanada.

Konferensi Ekonomi Islam Internasional yang awal bulan Januari lalu diselenggarakan di Khartoum, Sudan, adalah forum pertama yang diselenggarakan oleh HT Internasional. Forum ini diikuti oleh tidak kurang dari 6000 peserta, laki-laki dan perempuan. Di antaranya tentu saja adalah sejumlah anggota HT dari berbagai negara, yakni Australia, Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Arab Saudi, Yaman, Palestina, Libanon, Sudan, Inggris, Belanda, Turki dan Kanada. Rasa persaudaraan terasa benar dalam forum itu. Bergaul bagaikan saudara yang sudah lama kenal, padahal banyak di antara mereka yang baru kali itu jumpa. Apalagi yang dibahas adalah tentang krisis finansial global yang dampaknya memang dirasakan di seluruh dunia. Ketika membahas akar masalah dan solusi, maka pembahasannya juga dilakukan dengan perspektif atau cara pandang internasional karena pada faktanya sistem ekonomi kapitalis adalah sistem yang telah diterapkan secara global. Solusi yang ditawarkannya pun, yakni sistem ekonomi Islam, juga bersifat internasional.


Partai Internasional

Secara individual, pada diri anggota HT memang juga tampak sifat persaudaraan internasional atau universal itu. Abu Anas, misalnya. Ia berasal dari Libanon, kini mukim dan menggerakkan dakwah HT di Sydney, Australia. Sama seperti Abu Anas, Abdurrahman al-Baghdadi yang membawa HT pertama kali di Indonesia juga berasal dari Libanon. Ia awalnya tinggal di Sydney, sebelum akhirnya bermigrasi ke Indonesia dan menikah dengan Muslimah sini. Dari ketekunan dakwah yang ia lakukan sejak pertengahan tahun 80-an, HT kini berkembang di seluruh wilayah Indonesia. Contoh lain, Abu Akram, salah satu tokoh HT Sudan, ternyata ibunya berasal dari Turki dengan bapak dari Sudan. Karena itu, wajahnya terlihat lebih putih ketimbang rata-rata wajah orang Sudan yang tampak gelap. Jamal Harwood, bule asli Inggris, kini mukim di Kanada mengembangkan dakwah HT di sana. Taji Mustafa, media representatif HT Britain, berasal dari Nigeria. Lalu adalagi Idries de Vries, anggota HT Belanda yang ternyata beristri seorang Muslimah asal Serang, Banten. Bukan hanya Idries, banyak anggota HT yang menikah lintas negara. Dr. Shallehuddin, anggota HT Malaysia, dosen Universitas Sain Malayasia di Johor, misalnya, menikah dengan Muslimah HTI asal Surabaya.

Dari sekian contoh, kiranya Dr. Abdullah Ahmad bisa disebut sebagai anggota HT yang paling unik. Ia berasal dari Srilanka. Abdullah Ahmad adalah nama hijrahnya atau nama setelah menjadi seorang Muslim. Nama aslinya dalam bahasa Srilanka sangat sulit diingat. Mungkin dia sendiri juga sudah lupa. Semasa remaja, ia bersama keluarganya bermigrasi ke India. Arah hidupnya berubah drastis saat dia mendapat beasiswa untuk program master di Jerman. Di sanalah ia masuk Islam dan bertemu dengan dakwah HT. Perjalanan hidupnya yang berliku tidak berhenti sampai di situ. Malah bisa dikatakan, itulah awal dari hidupnya yang benar-benar bisa mewakili apa yang disebut sebagai persaudaraan Islam universal itu.

Melalui perantaraan anggota HT Indonesia (HTI) yang dosen UGM, yang kebetulan juga tengah melanjutkan kuliahnya di Jerman, ia akhirnya menikah dengan Muslimah HTI alumni IPB asal Purworejo. Lulus dari Jerman, Abdullah dengan keluarga muda lintas negaranya itu pindah ke Melbourne untuk melanjutkan kuliah S-3 dengan beasiswa dari Unimelb (University of Melbourne). Sekitar tiga tahun mukim di Melbourne, mereka kini telah dikaruniai satu anak (mungkin sekarang lebih) dan mukim di London untuk melanjutkan program pos doktoralnya.

Dari secuil cerita di atas tampak bahwa bagi anggota HT, bangsa dan negara bukanlah hambatan, dan memang tidak boleh dijadikan hambatan, dalam menjalin persaudaraan karena persaudaraan hakiki sesungguhnya hanya terbentuk dari kesamaan aqidah Islam. Aktivitas dakwahlah yang telah mewujudkan itu semua. Karena itu, Abdullah Ahmad dan istrinya tentu tidak perlu merasa kesepian meski ia hidup berulang berpindah-pindah negara, karena di setiap kota di setiap negara di mana ia tinggal atau singgah, ia selalu berjumpa dengan dakwah HT yang telah benar-benar mewujudkan persaudaraan Islam secara nyata itu; bukan hanya sekadar saudara sesama Muslim, tapi lebih dari itu, sebagai saudara sesama anggota jamaah dakwah dengan pemikiran dan perasaan Islam yang sama (kull[un] fikriy[un] syu’ûriy[un]) hasil dari proses pembinaan yang panjang. Ketika di Jerman, ia bergabung dengan HT Jerman. Selepas studi masternya di sana, ia sempat tinggal sesaat di Indonesia. Selama di Indonesia, persisnya di kota Bogor dan Yogjakarta, tanpa hambatan berarti, kecuali hambatan bahasa, ia dengan mudah bergabung dengan HT Indonesia. Ketika berpindah ke Melbourne, ia juga diterima dengan tangan terbuka oleh HT Australia yang terkonsentrasi di kota Melbourne dan Sydney. Selepas dari Melbourne, Australia, kini tentu ia tengah menikmati interaksinya dengan umat bersama HT Britain di London.


Mewujudkan Ukhuwah Islam Universal

HT tentu tidak bermaksud sekadar mewujudkan ukhuwah Islam sebatas di lingkungan internal partai atau jamaah. Cita-cita HT adalah bagaimana ukhuwah atau persaudaraan itu terwujud dalam kehidupan sehari-hari secara nyata di tengah umat Islam sedunia, tidak berhenti sebatas slogan atau sebatas ibadah seperti tampak pada saat ibadah haji. Caranya, tidak lain dengan mewujudkan kehidupan Islam yang di dalamnya diterapkan syariah Islam secara nyata dalam naungan Daulah Khilafah dengan seorang khalifah sebagai pemimpin bagi umat Islam seluruh dunia. Dalam kehidupan semacam itu, pemikiran, perasaan dan hukum-hukum Islam akan menjadi dasar dalam berinteraksi, khususnya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Khilafah akan mewujudkan persaudaraan Islam itu, melepaskan sekat-sekat nasionalisme sempit di Dunia Islam yang selama ini telah terlanjur ditanamkan oleh penjajah dan dipelihara oleh ideologi sekularisme.

Apa yang telah dilakukan dan dipraktikkan sebagian anggota HT, seperti diceritakan di atas, menunjukkan bahwa persaudaraan Islam adalah sebuah keniscayaan, yang jika diwujudkan akan menjadi sesuatu yang sangat indah. Nasionalisme nyata-nyata telah membunuh persaudaraan agung itu. Kegagalan umat Islam sedunia yang konon jumlahnya tidak kurang dari 1,4 miliar membela negeri-negeri Muslim seperti Irak, Afghanistan dan Palestina adalah bukti nyata dari rapuhnya rasa ukhuwah itu.

Ke sanalah HT sedunia kini bergerak. Jika hal itu bisa diwujudkan maka umat Islam akan menjadi kuat, tidak mudah dizalimi oleh siapapun sebagaimana yang sekarang terjadi, insya Allah. [Kantor Jubir HTI-Jakarta]

0 komentar:

Posting Komentar

 
Istrahatnya s'org aktivis adalah suatu kelalain, Laa rohata ba'dal yauum. Teruslah berjuang hingga Allah memenangkan Dien ini atau kita Syahid Karenanya...